Tak Singgahi Pontianak dan Medan, Jadi Jakarta Sentris
Masalah keuangan pelik menerpa Indonesian Basketball League (IBL) 2009. Dalam rapat Dewan Komisaris IBL di Jakarta kemarin (12/1), kompetisi basket paling bergengsi di tanah air itu akhirnya diputuskan bergulir tanpa sponsor utama.
Hingga sepekan menjelang start IBL 2009 pada 22 Januari nanti, promotor Mahaka Sports dan TVOne tidak kunjung menemukan sponsor utama. Karena itu, jika sebelumnya selalu ada embel-embel salah satu mereka rokok pada titel IBL, musim ini tidak akan ada lagi.
Tanpa sponsor utama, praktis dukungan keuangan untuk IBL 2009 menurun drastis. Promotor pun mau tidak mau harus menghemat. Cara yang dipilih, ternyata, begitu menyakitkan. Meski berlabel kompetisi basket paling bergengsi di Indonesia, IBL 2009 hanya akan berkutat di Jawa. Pontianak dan Medan yang menjadi home base Citra Satria dan Angsapura dipastikan tidak disinggahi IBL 2009.
Sebaliknya, IBL akan terkesan Jakarta sentris. Selain menjadi tuan rumah seri pembuka, rencananya mereka akan kedatangan IBL dua seri lagi menjelang berakhirnya babak reguler.
“Kami tetap mempertahankan 90 game pertandingan pada IBL kali ini, seperti musim lalu. Tapi, untuk mengurangi pengeluaran, kami akan mengurangi jumlah kota yang dilewati,” ungkap Hasani Abdulgani, direktur Mahaka Sports, setelah rapat Dewan Komisaris IBL di Jakarta kemarin (13/1).
Sebenarnya, menurut Hasani, ada dua investor yang mau menjadi pengganti Sampoerna A Mild yang sejak 2003 menjadi mitra utama IBL. Namun, harga yang mereka tawarkan dianggap tidak cukup untuk menjadi sponsor utama.
Akibat krisis sponsor itu, tidak hanya babak reguler yang “dikekang”. Laga all star yang menampilkan pertarungan pemain terbaik musim ini belum terjadwal dalam agenda IBL.
Namun, Hasani membantah bahwa upaya penghematan itu akan manjatuhkan kualitas kompetisi. Medan dan Pontianak, menurut dia, tetap bisa menjadi tuan rumah IBL 2009 jika tim mereka lolos ke playoff. “Kami akan berlakukan sistem home-away untuk babak playoff. Ini sistem baru agar tim-tim tak terlalu bergantung kepada sponsor,” jelas pria berkacamata itu.
Namun, Angsapura belum bisa menerima keputusan tersebut dengan lapang dada. Peluang menjadi tuan rumah melalui jalur playoff seolah menjadi mission impossible bagi mereka. Di tengah dominasi tim-tim Jawa, selama ini mereka sudah cukup puas untuk tidak menjadi tim juru kunci. Karena itu, tuan rumah babak reguler sangat berharga bagi pencinta basket di Medan untuk menyaksikan pertandingan basket kelas nasional. “Seharusnya, promotor mengajak kami duduk satu meja untuk menentukan tuan rumah seri reguler. Kenapa mereka memutuskan sendiri?” keluh Amran Andy Sinta, general manager Angsapura.
Selain penyempitan sebaran IBL, tidak adanya sponsor utama itu membuat promotor mengurangi subsidi untuk tim. Promotor tidak mau menyebutkan nilainya. Namun, sebagai gambaran, tahun lalu Bhinneka Solo yang lolos empat besar mendapat subsidi untuk transportasi pergi-pulang Rp 600 ribu per orang ke Jakarta. Akomodasi hotel Rp 270 ribu per kamar. (Jawa Pos)

0 komentar:
Posting Komentar